RECENT COMMENTS
  • paman tyo: ohhh masih hidup kok. cuma semaput saja. :)...
  • orangutanz: Huaaa!!! sedih banget baru tau ada blog kayak gini. sepertin...
  • Patrick AMP Manurung: Pas lihat kartu-kartu ini: ...
  • mufti: Rasanya orang2 nggak terlalu suka dan membutuhkan jasa badut...
  • annots: saya boleh ikut pasang 1000-an ndak paman?...
  • fahmi!: nggak semua badut itu lucu buat semua orang, beberapa malah...
  • Ralaalelprora: Make peace, not war!...

Archive for the 'Dongeng + Legenda' Category

28.09.05 | Kartu Wayang Buatan Nyonya

kartu wayangKARTU INI BUATAN SEORANG IBU RUMAH TANGGA, KETURUNAN BELANDA, DI YOGYAKARTA, SEKITAR 1978-1979, DAN DIPASARKAN MULAI AWAL 80-AN. Digambar sepenuhnya manual, tanpa bantuan komputer — kecuali, tentu, saat repro dan separasi warna.

Sungguh menyesal saya tak ingat nama Ibu itu. Saya cari di Dokumentasi Kompas tak ada hasil karena arsip masa itu belum didigitalkan.

Saya sudah menanya Pak Julius Pour, wartawan Kompas yang saat itu memimpin Biro Jateng & DIY, dan menulis feature tentang Ibu itu dan karyanya. Tapi JUP, demikian nama tulisnya, tak ingat tulisan itu kira-kira di bulan apa pada tahun berapa. Nama Ibu itu pun dia lupa, padahal setahu saya JUP, teman ayah saya itu, di masa mudanya adalah wartawan berdaya ingat kuat, bisa wawancara tanpa mencatat.

Beruntung, setelah jadi mainan adik-adik saya, dengan karton pembungkus raib, kartu ini masih terselamatkan. Lusuh tapi berharga.

Barangkali Lantip bisa menanyakan ke Karta Pustaka, siapa gerangan Ibu yang mendesain kartu dengan As Sekop Gunungan, Raja Daun Keriting berupa Prabu Kresna, Joker berupa Cakil, dan dek berupa motif batik kawung. Kenapa Karta Pustaka, karena kalau saya tak salah ingat lembaga itu pernah menjual kartu ini.

Diperoleh: 1980 * Kontributor: sendiri * Asal kartu: Yogyakarta * Pembuat: belum diketahui * Bahan: art carton * Cetak: offset

27.09.05 | Babad Tanah Mongol[ia]

kartu jengis khan

ORANG MONGOL DAN MONGOLIA. Saya mengenal itu dari guru sejarah di SD [tentang Kubilai Khan] dan Kho Ping Hoo. Mongol, dalam benak naif saya sampai hari ini, adalah Cina yang beda dari Cina yang saya kenal. Maksud saya dari segi ekspresi aristik [pakaian, ragam hias, dan... masakan seperti yang di Pluit itu].

Hmmm, masakan. Sajian mongolia saya cicipi pertama kali di sebuah kedai di Taiwan. Tetamu meramu sendiri masakanannya, yang serbadaging sapi, lantas mencemplungkannya bersama saur segar ke dalam wajan besar.

Memang bukan masakan Cina seperti yang saya kenal di Jawa Tengah. Mongol dan Mongolia memang bukan Cina. :) Tapi mongoloid adalah ras kebanyakan orang Asia.

kartu mongol Kartu dari Mongolia ini seperti sebuah babad [klik gambar kecil untuk memperbesar]. Raja Sekop dengan mangkok di tangan, adakah dia Jengis Khan yang bernama asli Temujin [1155-1167]? Mangkok apakah itu? Atau cawan — tapi kok terlalu besar?

Raja Klover [ah, lebih enak Raja Semanggi] meneropong dengan teleskop, alat penting untuk bangsa penjelajah yang tak gentar berperang.

Ratu Berlian dengan busana yang tampaknya mengilhami para desainer dalam merancang busana berkerudung.

Jack [atau Joko saja ya, toh sama-sama nama umum untuk wong Jawa] dari Bani Jauhari [lha ya, wong mewakili diamond] sedang membuat api. Tapi api untuk apa? Memasak? Kenapa di dekat karpet?

Ah, terlalu banyak pertanyaan di sini. Supaya kesebalan Anda komplet, lihatlah Joker. Bukan badut kocak, melainkan macan serigala galak yang memegang anak panah, dan satunya lagi mengibarkan pataka.

Peperangan dahsyat, memang bagian dari sejarah orang-orang Mongol. Merpati itu, adakah lambang perdamaian?

Pepatah latin mengatakan si vis pacem para bellum: untuk mewujudkan perdamaian bersiagalah untuk perang. Berbau doktrin kewiraan dan Menwa — bangsa Indonesia adalah bangsa yang cinta damai, tapi lebih utama lagi mencintai kemerdekaan. Eh, bukannya ini nilai universal?

Diperoleh: 23 Maret 1996 * Kontributor: Seno Gumira Ajidarma * Asal kartu: Mongolia * Pembuat: HRG Tiskarna * Bahan: art carton * Cetak: offset

(Pindahan dari tempat lama)